The Untouchable, 411-212, dan Kekuatan Penekan

Posted on

DETIKBERITA.CO – Oleh: Firman Noor, PhD *)

Berkumpulnya massa hingga jutaan orang pada waktu dan tempat yang sama, dengan sebuah tuntutan yang sama, secara teori menunjukkan potensi kumpulan itu sebagai sebuah kekuatan penekan. Kumpulan yang kerap disebut dalam terori Ilmu politik sebagai kelompok penekan (pressure group) adalah bagian dari elemen politik yang tidak dapat diabaikan. Dalam kasus aksi massa 411 dan 212, makna sebagai penekan ini terbukti dari keberhasilan sebuah wacana yakni tangkap penistaan agama yang tadinya dianggap pinggiran dan konyol menjadi sebuah discourse yang bersifat nasional bahkan mondial.

Berbagai counter discourse yang coba dilontarkan pihak lain yang berlawanan–termasuk misalnya anti-toleransi, bahaya Islam Radikal, pemanfaatan SARA untuk menggulingkan tokoh tertentu, hingga tuduhan konspirasi jahat kelompok anti-pemerintah–tidak juga mampu menghalangi makin menguatnya wacana itu. Demikian kuatnya hingga bahkan mampu menggerakan beragama manusia.

Mulai masyarakat akar rumput dari pelosok desa hingga kalangan ibu-ibu sosialita perkotaan. Kalangan cendekiawan bergelar doktor bahkan profesor, hingga para pelajar sekolah dasar. Pengusaha besar yang bahkan datang dengan sengaja membawa Lamborghini hingga pedagang asongan dan pengagguran yang sekadar menawarkan bantuan air atau tenaga bersih-bersih. Para artis nasional hingga mereka yang terabaikan. Kaum muda yang gagah dan bugar hingga golongan pensiunan dan para penyandang disabilitas.

Begitu juga mulai dari mereka yang berlatarbelakang santri pimpinan ormas Islam bahkan ulama, hingga kaum abangan, bahkan non-Muslim. Para pejabat pemerintahan hingga karyawan dan pegawai rendahan. Para politisi hingga budayawan. Aktivis perempuan hingga purnawirawan. Semua berbaur, meninggalkan kelas dan profesinya, melebur ke dalam satu kesatuan. Sebuah fenomena yang mengingatkan kita pada awal kehadiran Sarekat Islam di awal ke-20, yang mampu menghipnotis semua kelas, profesi, latar belakang sosial dan primordial untuk memiliki identitas bersama dan bergerak dalam satu tujuan (Korver 1985, Noor 2008).

Tidak saja mampu menggemakan sebuah wacana penting, kekuatan ini, pun mampu menggusur kebijakan terselubung penguasa yang selama ini cenderung membiarkan bahkan memberi angin terhadap sosok Gubernur Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Simak saja pengakuan Kapolri bahwa setelah ditangani Polri sajalah Ahok baru dapat dikenakan status tersangka. Namun, jangan lupa, tanpa adanya desakan yang massif dari kelompok penekan ini, niscaya akan muskil juga Polri akan melakukan hal yang berbeda dengan apa yang telah dilakukan lembaga-lembaga lain.

Mengingat strategisnya seorang Ahok dalam pusaran kekuasaan, bisnis dan pemerintahan, tidak mengherankan dan sangat bisa dimengerti jika pembelaan terhadapnya (juga oleh pihak-pihak strategis) demikian berlapis-lapis. Ahok nyaris sempurna menjadi thе untouchable. Namun, sekali lagi, dengan tekanan dari kalangan yang terabaikan, bahkan yang terlecehkan ini, Ahok mampu disematkan status tersangka yang untuknya dan semua pendukungnya jelas amat ingin dihindari.

Itulah bukti bahwa kelompok ini, yang layak disebut sebagai representasi kelompok Islam, yang tidak lagi sekadar buih di lautan, namun menjelma menjadi sebuah kekuatan yang real. Meski tentu saja dalam soal Ahok keputusan akhir masih belum pasti benar, apalagi dengan tingkat sokongan rezim yang cukup tinggi, namun saat ini jelas kekuatan yang dituduh buih itu tidak bisa dipandang remeh.

Lebih dari itu, secara politik, eksistensi dan peran kelompok penekan ini telah menyibak tirai sebuah ‘potensi pasar’ atau buah power source yang demikian bernilai. Dan kenyataan ini pada dasarnya adalah puncak ‘gunung es’. Jika pada persoalan yang hanya melibatkan satu orang saja mampu digerakan demikian dahsyat, apa lagi dalam soal-soal lain yang jauh lebih prinsipil.

Aksi 212 mengingatkan kembali bahwa suara umat Islam-ideologis amat potensial, dengan konsistensi potensi ceruk yang tidak banyak berubah atau berlangsung secara relatif kontinum sejak masa pra-kemerdekaan. Kenyataan historis menunjukan bahwa kekuatan ini tidak pernah menjadi mayoritas dalam konstelasi politik nasional, namun perlu diingat tidak pula dapat mudah ditenggelamkan.

Selain masalah potensi, Aksi Bela Islam III ini mengingatkan partai Islam untuk istiqomah dalam menyuarakan aspirasi dengan tegas. Partai Islam kembali diajak untuk bercermin atas sikap ikhlas peserta aksi yang rela mengukur jalan dan bertahan dalam hujan. Sikap ini, jelas mencerminkan idealisme yang spontan dan kokoh. Sikap yang dengan telak mematahkan mitos ‘pragmatisme total’ yang konon katanya tengah menjangkiti kondisi politik masyarakat kita. Antusiasme peserta 212 ini menguak kenyataan masih bersemainya benih-benih kekuatan politik ideologis di tengah umat Islam.

Baca Juga: Berbeda dengan Ahok, Pasangan Anies – Sandiaga Menyasar Pemilih Pemula

Sehubungan dengan itu, aksi 212 mengingatkan bahwa partai Islam untuk lebih ikhlas lagi menyuarakan kepentingan umat Islam. Pesan yang disampaikan terutama pelaku long march Ciamis dan beberapa daerah lainnya demikian jelas bahwa mereka yang berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menegakkan Islam akan diberikan jalan, kekuatan dan dukungan. Pesan itu seolah mengingatkan pula jangan terjebak menjadi lembek dan tanpa identitas. Tidak usah khawatir akan dikucilkan atau diabaikan. Pesan ini relevan, karena bisa jadi kondisi stagnansi dan kurang bersemangat partai Islam saat ini terkait dengan tumpulnya keyakinan ideologis dan hilangnya karakter.

Lebih dari itu, aksi 212 mengingatkan tugas pokok partai Islam sebagai wadah dan media agregasi atas segenap apsirasi Umat Islam. Tujuan ini menjadi sebuah tugas moral mengingat kedudukan Umat Islam sebagai anak bangsa yang sah, yang harus terus dipelihara eksistensinya, dikawal aspirasinya dan difasilitasi potensinya. Selain itu, Umat Islam sebagai kelompok mayoritas juga tidak saja merupakan benteng terakhir keberadaan NKRI, namun pula motor utama bagi kejayaannya. Itu semua pada akhirnya harus kembali menjadi raison de être bagi setiap partai Islam.

Akhirnya aksi 212, yang juga merupakan kelanjutan 411 dan berbagai aksi sebelumnya, jelas berpesan bahwa partai-partai Islam harus lebih tulus dan serius lagi membangun kedekatan dengan umat, sebagai captive market potensial. Dengan terbangunnya kedekatan itu partai-partai Islam jelas akan memiliki banyak keberanian dalam melawan oligarki internal partai yang amat disandasarkan pada kekuatan uang semata, maupun sebagai modal dasar perjuangan dalam menyalurkan aspirasi anak bangsa dan sekaligus sebagai kontrol atas jalannya kekuasaan. [rmol]

Kata Kunci Pencarian:
download http injector pro apk v 411,apa bahasa sunda sangat menyerukan,model kaos 212,konflik 212,bajau dalam artis,cara bertemu jin di penjara,cara membuat akun smule menjadi artis,visi misi koperasi syariah 212,cara membuat nenen dari lilin lilinan,cara membuat spaghetti dalam bahasa inggris dan terjemahannya,

Loading...
loading...
loading...