Pengakuan Seorang (Mantan) Pendukung Jokowi + Ahok : kabar Terupdate Hari Ini

Posted on

Saat pilgub DKI 2012, saya mendukung Jokowi dan Ahok untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI , dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :

1. Kisah keberhasilan Jokowi melakukan perubahan di Solo dengan pendekatan yang “saat itu” out of the box saya harap bisa di import ke Jakarta
2. Image Jokowi yang begitu merakyat sangat kontras dengan Foke yang selama menjadi Gubernur terkesan sangat jumawa
3. Ide Prabowo untuk memasangkan Ahok, seorang keturunan cina dan non muslim, menurut saya sangat brilian. Sebagai pesan kebhinnekaan yang sangat kuat, yang tentu kita butuhkan untuk merekatkan rasa kebangsaan kita yang memang sangat beragam ini.
4. “Performance” Ahok saat menjadi anggota DPR yang “berani” juga berhasil mendapatkan simpati saya
Namun seiring perjalanan waktu, satu per satu kekaguman saya terhadap dua tokoh itu meredup.

Milestone pertama, jelas menjelang pilpres 2014. Jokowi yang dalam berbagai kesempatan di depan publik yang menyatakan “gak berniat, gak akan , gak mikir” untuk maju jadi capres, ternyata menjilat ludahnya sendiri dan menelan semua kata-katanya yang sudah disampaikan di muka publik.

Kepercayaan saya kepada Jokowi, runtuh seketika.

Sejak kecil di madrasah ibtidaiyah, saya belajar bahwa pemimpin itu syaratnya : Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Dan kenyataan bahwa Jokowi mampu balik badan atas apa yang sudah dia ucapkan DI DEPAN PUBLIK membuat dia , bagi saya, tidak lagi memenuhi kriteria Shiddiq dan Amanah sebagai pemimpin.

Bagaimana mungkin saya bisa percaya seseorang untuk mengelola uang rakyat 2500 trilyun tiap tahun, dengan track record seperti itu ? Kalau diruang publik dia bisa berbohong, apalagi di ruang-ruang gelap entah di luaran sana.

Tapi ternyata lebih banyak yang berpikir berbeda dengan saya, sehingga Jokowi pun berhasil menjadi Presiden, lalu Ahok naik menggantikan sebagai Gubernur DKI.

Kita tahu Ahok mengambil pendekatan yang hampir diametral dengan Jokowi dalam menjalankan roda pemerintahan. Kalau Jokowi lebih merangkul orang, Ahok menjalankan apa yang di sebut “Management By Angry” , hampir tiap hari lebih dari sekali media dipenuhi oleh berita Ahok lagi marah-marah, entah itu ke anak buahnya, ke DPRD, bahkan warga nya pun gak luput dari aksi marah-marah sang Gubernur.

Sampai sini saya masih gak masalah, sebagai seorang pemimpin dalam skala kecil, saya beberapa kali menjalankan eksperimen gaya kepemimpinan. Saya pernah coba gaya yang merakyat, bersikap sebagai teman dari orang yang saya pimpin. Pernah juga mencoba gaya tut wuri handayani, pemimpin sebagai motivator. Tapi pernah juga coba gaya bagai raja yang main tunjuk ini itu dengan pake marah-marah dikit.

Dan saya sampai pada kesimpulan, bahwa pada dasarnya manusia itu makhluk status quo, tidak suka bergerak, dan untuk membuat manusia bergerak perlu dikasih insentif / motivasi. Sayangnya, ternyata insentif paling efektif untuk getting things done ya dengan dimarahin atau diancam.

Karena seperti Tony Robbins bilang “People will do anything to avoid pain” , jadi supaya gak menderita karena dimarahin, maka orang akan bekerja dengan baik / benar.

Karena itu saya menganggap apa yang ahok lakukan dengan “management by angry” nya adalah sebuah “necessary evil” untuk memotivasi PNS DKI supaya roda birokrasi yang lamban itu bisa bergerak lebih cekatan untuk melayani rakyat DKI . And it works in some way.

Tapi semua permakluman itu hilang menguap bagai embun pagi terkena sinar matahari, kala Ahok diwawancara rekan saya Aiman Witjaksono di Kompas TV beberapa waktu lalu.

Saya bisa mentolerir pemimpin yang keras bahkan cenderung kasar sekalipun, tapi saya tidak bisa mentolerir pemimpin yang mampu mengeluarkan kata-kata kotor, apalagi itu dilakukan di frekuensi publik secara live. Bahkan meski sudah diingatkan oleh reporter, semburan kata-kata kotor itu masih terus dilakukan tanpa peduli dengan norma sopan santun yang berlaku di masyarakat.

Saya dididik di lingkungan militer. Sebagai seorang yang pernah beberapa tahun berperang di hutan, ayah saya adalah seorang yang sangat keras, sabetan kopel tentara akrab dengan kaki saya kalau saya nakal atau gak nurut. Tapi dalam memori saya, tidak pernah sekalipun ayah saya pernah mengeluarkan kata-kata kotor. Bahkan kata-kata macam “goblok” atau “tolol” yang masih lebih rendah kadarnya dibandingkan yang diucapkan sang gubernur, tidak pernah terucap dari lidah ayah saya. Lalu Saat kelas dua SD, saya juga pernah menyaksikan seorang kawan di tampar sampai terkencing-kencing di depan kelas oleh bu guru, hanya karena di kelepasan berkata kotor.

So, that’ it. Peristiwa wawancara itu menjadi turning point hilangnya respek saya kepada sang gubernur. Saya gak bisa paham kalau masih ada yang bisa memberikan permakluman terhadap aksi semburan kata-kata kotor itu dan menyikapinya sebagai seolah kejadian yang tidak berhubungan dengan kapasitas dia sebagai pemimpin.

Apa yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita ?

Video itu akan abadi di dunia maya, dan saya tidak akan sanggup menghadapi anak saya jika dia mempertanyakan larangan saya untuk berkata kotor, sementara di sisi lain saya mendukung orang yang melakukan itu untuk menjadi pemimpin.

Apalagi sesudah itu ternyata banyak peristiwa yang membuat saya makin mempertanyakan integritas ahok, soal urban legend 1 juta KTP salah satunya.

Dan puncaknya ya pidato dia di pulau seribu itu. Apapun penafsirannya, menurut saya yang dia lakukan , berkomentar tentang agama yang tidak dia anut dan dikaitkan dengan pilkada, sudah benar-benar melampaui batas. Benar-benar tidak selaras dengan semangat kebhinekaan yang muncul di awal saat Prabowo memasangkan Ahok untuk menjadi Wagub nya Jokowi.

Sekian …

From lover who convert to hater 
Cipularang , November 2016

Sumber tulisan  : https://goo.gl/dxfbJf

Source link

Kata Kunci Pencarian:
kompas hari ini prabowo,joni a koto,cara membuat kitiran petruk gareng,cara membuat hiasan anime,hai google,cara menghitung ox dengan baik dan benar,cara buat logo lampung di photoshop,emoji om telolet om untuk facebook,cara membuat gelang tali eiger,cara agar unipad lagu bebas,

Loading...
loading...
loading...